Karier sang Pecandu Kertas

Beberapa minggu yang lalu, aku mengunjungi Dluwang art sebagai bagian dari jadwal yang sudah aku rencanakan. Aku memilih Dluwang art karena sesuai dengan riset ku tentang mengolah barang bekas berbahan kertas. Pagi-pagi aku berangkat ke sekolah seperti biasanya, mengikuti game pagi dan doa pagi, setelah itu fasilitatorku pak Gemak sudah siap mengantar ku ke Dluwang art. Di perjalanan menuju tempat produksi Dluwang art, aku banyak berpikir bagaimana aku harus memulai pembicaraannya nanti. Walaupun aku sudah pernah wawancara dengan pak Salam di Jakarta, namun perasaan grogiku masih belum bisa ku atasi. Aku agak sulit untuk memulai pembicaraan.

Tempat produksi Dluwang art ada di Ledok Tukangan DN 2/357, RT 01, RW 01, Yogyakarta dengan mbak Briane Novianti Syukmita sebagai pemiliknya. Mbak Novi pernah kuliah di Universitas Gajah Mada. Dari kota asalnya, Jogja, ia memulai usaha di tahun 2012. Mulanya karena iseng mengumpulkan kertas bekas skripsi di kampusnya. Berawal dari isengnya ia membuat tas postman sederhana. Tas postman itu dibeli oleh turis asing seharga Rp.50.000.Dari tas postman inilah awal mula dia berbisnis kertas. Hebatnya, ia bukan sekedar berbisnis, ia juga berbagi edukasi dari bisnis yang ia tekuni. Ia melibatkan warga desa Seyegan untuk mendaur ulang kertas menjadi lebih fungsional. hingga kini banyak prestasi yang telah ia raih, di tempat produksinya berjejer penghargaan atas kariernya di dunia kertas.

Dluwang sendiri terjemahan bahasa jawa berarti kertas, Dluwang mempunyai singkatan yang menarik dari mbak novi “daur ulang jadi uang”. Produk yang dihasilkan Dluwang art juga berkualitas dan terjamin ketahanannya terhadap air karena produknya di lapisi oleh lapisan anti air. Dluwang art membuat banyak produk yang bermacam, seperti, aneka box, miniatur, tas, frame, dan lain lainnya. Ia memasarkan produknya di Galeria mall, Yogyakarta. Ia sengaja tidak merusak bahan kertasnya menjadi bubur seperti yang dilakukan pak Salam, ia ingin produk yang dihasilkan masih terlihat identitas kertasnya, tulisan tulisan berita, gambar gambar artis dan lainnya bisa menjadi daya tarik sendiri bagi pembeli.

Dari mbak Novi aku banyak belajar, ia pernah mengalami kegagalan tapi tetap dalam posisinya yang sekarang. Ia harus bisa memasarkan hasil produksinya, membuat brand, mengendalikan setiap hambatan, dan mengikuti trend. Setelah berkunjung dari Dluwang art, aku mempresentasikan hasil bertemu dengan mbak Novi. Dari hasil presentasiku, aku dan teman teman bisa belajar tentang dunia marketing dengan pak Chandra. Bahwa marketing bisa berbisnis tentang banyak hal tidak hanya barang saja, tak jarang orang memanfaatkan kedok agama dan empati orang lain untuk menarik perhatian.

Latest posts by Raissa kanaya (see all)